Jumat, 14 November 2008

EFORIA POLITIK MASYARAKAT KITA


By : Edy Lasmayadi

Bergulirnya reformasi dengan usainya rezim orde baru di tahun 1998, mengawali change image masyarakat terhadap eksistensi politiknya. Kebuntuhan saluran aspirasi yang selama ini mengendus perlahan membuka kran kebungkaman masyarakat saat ini.

Kebebasan berpendapat yang dijamin UUD 1945, meskipun secara eksplisit diterjemahkan sejak dulu, namun eksistensi itu mulai bergerak pada saat ini. Genderang perubahan itu tentunya membawa angin segar bagi peta perpolitikan negara Indonesia. Namun apabila hal ini tidak disikapi secara arif dan bijaksana, bukan tidak mungkin akan menimbulkan tirani baru bagi perkembangan demokrasi. Statemen yang dilontarkan tanpa didukung keakuratan data dan bukti otentik kerap membingunkan serta dapat menimbulkan "devide at impera" dikalangan masyarakat dan memicu kondisi chaos. Eforia ini sebagai konsekuensi logis atas terbelenggunya kebebasan berekspresi, berpendapat yang dibidani secara sistematis oleh rezim orde pembaruan.

Kran pembuka itu bernama mahasiswa

Mahasiswa sebagai agen of change dan gerakan moral (moral force) dalam perjalanan perpolitikan negeri ini, sejak orde lama telah menunjukakan perannya. Kejatuhan rezim Soekarno telah menorehkan sejarah bagi keberadaan peran gerakan mahasiswa. Dengan tema sentral gerakan anti kemapanan, mahasiswa kerap mengkritisi segala kebijakan yang ditelurkan oleh pemerintah. Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) merupakan salah satu benang merah sejarah mahasiswa dalam menentang kemauan penguasa.

Pada dataran peran mereka (baca mahasiswa) dipenghujung orde baru, 1997 gerakan mahasiswa semakin menghiasi dan menjadi icon bagi pergerakan menjatuhkan rezim yang korup. Seperti padanan bijak “sejarah akan berulang”, kejadian ini seperti potret pergerakan 66, yang juga membawa massage slogan mengganti orde (Orla ke Orba) sedangkan gerakan 98 Orde baru ke orde reformasi.

Dalam banyak pergerakan mahasiswa merupakan salah satu corong yang sangat efektif untuk membawa angin perubahan, meskipun aktor intlektual ini kerap menjadi korban dari proses perubahan yang di perjuangkannya. Beberapa peristiwa terekam telah melahirkan pahlawan pembawa angin perubahan dalam percaturan politik nasional, sebut saja So Hok Gie, Arif Rahaman Hakim, Hariman Seregar, Arif Budiman dan diera 98 seperti Elang Lesmana dan lainnya yang tidak bisa kita sebut satu per satu.

Perubahan yang belum menuai hasil

Lokomotif perubahan ini telah 10 tahun menarik gerbong reformasi pada rel nya, namun signifikansi kemajuan dan kesejahteraan yang dijanjikan belum juga menuai hasil. Banyak keterpurukan negeri ini dalam beberapa sektor yang menjadi variabel peningkatan perekonomian, semisal angka penganguran yang masih relatif tinggi, mahalnya harga sembako, petani yang belum terangkat dari jurang kemiskinan dan lain sebagainya.

Ternyata “madu” reformasi itu masih terasa belum manis di lidah rakyat kita, meski demikian bukan berarti pemerintah saat ini tidak memikirkan dan tidak memiliki program peningkatan kesejahteraan rakyat terhadapnya. Memang tidaklah semudah membalikan telapak tangan, untuk memperbaiki carut-marut kondisi negeri ini, kabinet saat ini harus bekerja keras dan cerdas, bila perlu “tidak tidur” untuk menghembuskan angin perubahan yang belum dirasakan rakyat secara significant. Beberapa program seperti BLT, Pengembangan Masyarakat Mandiri, pendidikan dengan program BOS nya sudah menyentuh di akar rumput (grass root) dan masih intens dan konsisiten dijalankan. Pada dataran positive program yang yang telah ada selayaknya kita support mengenai teknis dan non teknisnya. dengan demikian pengentasan kemiskinan sedikit demi sedikit dapat di tanggulangi

Sejatinya untuk perubahan ke arah yang lebih baik seyogianya semua komponen bangsa harus bahu membahu, dan tidak saling menyalahkan yang pada akhirnya dapat memunculkan sikap nonproduktif untuk kemajuan. Mengkritisi kebijakan dan arah pembangunan tidaklah keliru namun lebih bijaksana jika “mekanisme saling mengingatkan di antara kita” dilakukan lebih elegan dan didasari niat baik, tanpa tedeng aling-aling untuk mencemooh atau tendensi “merendahkan” pihak lain. Kondisi ini dapat berujung menciptakan portal pembenaran/sentimen pribadi atau golongan.

Awan kelabu di langit Indonesia

Hari-hari yang terlewatkan saat ini nyaris dipenuhi aksi demontrasi, di berbagai belahan bumi nusantara ini. Saat membaca koran atau melihat televisi berita tersebut kerap menjadi”suguhan wajib” bagi kita semua. Kalau bukan mengenai demo Ketidakpuasan hasil Pilkada, Silang sengketa di tubuh partai, demo golongan masyarakat Tani prihal klaim tanah, buruh yang gajinya tidak di bayar, LSM yang menentang kebijakan dan masih banyak deretan catatan harian mengenai demontrasi ini.

Di sisi lain keributan yang tak terkendali/anarkis masih kerap disuguhkan oleh kuli tinta pada kita semua. Ada siswa yang tawuran, mahasiswa yang baku hantam di kampusnya dan menghancurkan fasilitas kampus (notabene di bangun dari hasil pajak/uang rakyat), pergolakan pengusuran tanah, sampai-sampai aktivitas yang sangat menghormati sportivitas seperti Liga Sepak Bola Indonesia juga sering di landa keributan. Gejala sosial apa pula yang mendera negeri ini bung?

Awan kelabu yang menyelimuti moralitas bangsa kita, kemungkinan bisa diakibatkan sebagai eforia politik kebebasan yang kebablasan. Kita ibarat kuda lepas dari lasso nya, tidak terkendali dan emosianal. Jangan sampai peristiwa ini menjadi bumerang bagi kehidupan bernegara kita. Meskipun atas nama demokrasi, hal ini bukanlah jalan yang harus kita tempuh. Pergeseran aktualisasi ini jangan sampai menuntut demokrasi yang dibangun mengarah pada paham fasisme. Kita semua, berkewajiban untuk menoreh perubahan ke arah yang lebih baik dan tertata, agar “cuaca cerah” dan kedamaian menyelimuti lagi di langit Indonesia. Penyelenggara negara, kaum cerdik pandai, ulama, politisi, pengusaha, mahasiswa dan apapun pangkat dan gelar yang tersandang mari satukan langkah untuk memperbaiki kondisi carut marut ini. Pesan-pesan moral serta kebajikan segera kita tularkan _ menjadi katalisator kepada generasi penerus. Bangsa ini tidak akan besar apabila ekskalasi perbedaan selalu di kedepankan. Justru bagaimana memandang perbedaan sebagai sesuatu hal keanekaragaman pemikiran & kekayaan budaya yang akan menciptakan keindahan dan dinamisasi dalam berbangsa dan bernegara.

Kiranya konstelasi berpolitik, menyampaikan pendapat dalam kehidupan masyarakat yang berpancasila telah terlupakan untuk diamalkan. Negara kita didasarkan atas KeTuhanan. Agama apapun mengajarkan perdamaian dan saling menghargai antar sesama umat manusia, mari kita tapakur dan merenungkan kejadian yang telah dialami, untuk selanjutnya merealisasikan serpihan perubahan masa depan yang lebih baik, di bumi tercinta ….Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar